Selama enam belas tahun di rumah, bisa dihitung berapa kali saya duduk di teras selama satu tahun. Bisa jadi tidak lebih dari sepuluh kali. Dan saat ini saya menyempatkan diri bersantai di teras rumah. Sembari menyesap es teh manis ditemani motor yang betah berlama-lama di sini sampai tengah malam.
Harusnya. Ya, harusnya, malam ini jadi malam kegembiraan. Berlomba-lomba gelar sajadah di baris depan. Bersalaman dengan tetangga karena setahun sekali bisa berinteraksi. Bersyair dari kitab Tuhan. Anak-anak jagoan lawan anggota dari masjid sebelah untuk perang sarung, atau mengharap tanda tangan sang imam. Para ibu dan anak perawannya mungkin disibukkan dengan hidangan untuk jam tiga pagi.
Justru hening. Tidak ada sahut-sahut kemeriahan tiap memulai rakaat di masjid. Terakhir ramai hanya saat kumandang azan penghujung hari. Yang terdengar bukan suara sendal-sendal melangkah, tapi derit engsel pintu tertutup. Aku menghela. Berharap agar setidaknya malam ini tidak amat sepi. Langit pun menyutujui permintaanku; menyuruh beberapa bintang terjaga.
Memang merepotkan ketika Corona jatuh cinta.
Corona ini hatinya penuh dengan bunga. Dia yang dikenal begitu rendah hati dan ramah tak pernah sugan menyayangi siapa saja. Dan sekarang dia sedang sayang-sayangnya dengan kita. Sama seperti para pegiat cinta; ditolak, tembak lagi, ditolak, tembak lagi. Ck, kukira hanya manusia saja yang bisa repot dan saling merepotkan waktu dimabuk asmara. Jatuh cintanya ternyata akan semenyebalkan ini.
Mungkin kita berpikir dia sangat tidak sopan. Menghalang-halangi jalan kita untuk bersilaturahmi. Namun kupikir lagi mungkin dia memang betul-betul menyayangi kita.
Di balik cintanya Corona pada kita di Ramadhan tersisip cinta yang redup.
Boleh jadi, sering menghabiskan petang di luar, kita tidak menyamakan sensasinya dengan mengakhiri senja di depan televisi.
Boleh jadi, setelah disibukkan oleh belajar dan bekerja, kita sudah terlalu lelah untuk membaca surat suci bersama keluarga.
Boleh jadi karena sudah biasa tarawih di masjid bersama-sama, kita jarang satu sajadah dengan ibu dan adik. Kita lupa suara ayah atau kakak saat jadi imam.
Boleh jadi, yang biasanya kita bertamu ke rumah Tuhan, kali ini Tuhan yang ingin mampir ke setiap rumah.
Boleh jadi, tawa yang diberikan pada kawan-kawan, tidak sebanyak yang kita beri pada orangtua dan saudara sendiri.
Sebab itu Corona mencintai kita. Ia juga ingin berbagi cintanya kepada kita untuk orang terdekat. Di rumah saja tidak membuat kehilangan rasa cinta terhadap Tuhan. Malah menambah kadar cinta pada keluarga. Aku yakin dia tidak main-main terhadap perasaannya meski ditolak berkali-kali.
Saat ini Corona masih belum menyerah memperjuangkan kebahagiaannya. Entah berapa lama lagi dia akan bertahan. Yang jelas, ketika sudah berjuang dan tidak kunjung dianggap, semua akan punya waktu lelah lalu pamit berhenti. Meski kita menolak mentah-mentah perasaannya, Corona mungkin akan mengerti. Dia akan tersenyum mengucap selamat tinggal dan berpesan, "Cintailah apa yang kalian lupa."
Selamat Ramadhan 2020.
Harusnya. Ya, harusnya, malam ini jadi malam kegembiraan. Berlomba-lomba gelar sajadah di baris depan. Bersalaman dengan tetangga karena setahun sekali bisa berinteraksi. Bersyair dari kitab Tuhan. Anak-anak jagoan lawan anggota dari masjid sebelah untuk perang sarung, atau mengharap tanda tangan sang imam. Para ibu dan anak perawannya mungkin disibukkan dengan hidangan untuk jam tiga pagi.
Justru hening. Tidak ada sahut-sahut kemeriahan tiap memulai rakaat di masjid. Terakhir ramai hanya saat kumandang azan penghujung hari. Yang terdengar bukan suara sendal-sendal melangkah, tapi derit engsel pintu tertutup. Aku menghela. Berharap agar setidaknya malam ini tidak amat sepi. Langit pun menyutujui permintaanku; menyuruh beberapa bintang terjaga.
Memang merepotkan ketika Corona jatuh cinta.
Corona ini hatinya penuh dengan bunga. Dia yang dikenal begitu rendah hati dan ramah tak pernah sugan menyayangi siapa saja. Dan sekarang dia sedang sayang-sayangnya dengan kita. Sama seperti para pegiat cinta; ditolak, tembak lagi, ditolak, tembak lagi. Ck, kukira hanya manusia saja yang bisa repot dan saling merepotkan waktu dimabuk asmara. Jatuh cintanya ternyata akan semenyebalkan ini.
Mungkin kita berpikir dia sangat tidak sopan. Menghalang-halangi jalan kita untuk bersilaturahmi. Namun kupikir lagi mungkin dia memang betul-betul menyayangi kita.
Di balik cintanya Corona pada kita di Ramadhan tersisip cinta yang redup.
Boleh jadi, sering menghabiskan petang di luar, kita tidak menyamakan sensasinya dengan mengakhiri senja di depan televisi.
Boleh jadi, setelah disibukkan oleh belajar dan bekerja, kita sudah terlalu lelah untuk membaca surat suci bersama keluarga.
Boleh jadi karena sudah biasa tarawih di masjid bersama-sama, kita jarang satu sajadah dengan ibu dan adik. Kita lupa suara ayah atau kakak saat jadi imam.
Boleh jadi, yang biasanya kita bertamu ke rumah Tuhan, kali ini Tuhan yang ingin mampir ke setiap rumah.
Boleh jadi, tawa yang diberikan pada kawan-kawan, tidak sebanyak yang kita beri pada orangtua dan saudara sendiri.
Sebab itu Corona mencintai kita. Ia juga ingin berbagi cintanya kepada kita untuk orang terdekat. Di rumah saja tidak membuat kehilangan rasa cinta terhadap Tuhan. Malah menambah kadar cinta pada keluarga. Aku yakin dia tidak main-main terhadap perasaannya meski ditolak berkali-kali.
Saat ini Corona masih belum menyerah memperjuangkan kebahagiaannya. Entah berapa lama lagi dia akan bertahan. Yang jelas, ketika sudah berjuang dan tidak kunjung dianggap, semua akan punya waktu lelah lalu pamit berhenti. Meski kita menolak mentah-mentah perasaannya, Corona mungkin akan mengerti. Dia akan tersenyum mengucap selamat tinggal dan berpesan, "Cintailah apa yang kalian lupa."
Selamat Ramadhan 2020.
Komentar
Posting Komentar