Langsung ke konten utama

Ya, halo.

"Sekarang tanggal berapa? 22."
"Hari apa? Selasa."

Temen-temen kelas udah pasti hafal kalo gue begitu. Abis itu mereka ngomong, "Dasar. Nanya sendiri, jawab sendiri." Tapi mereka ngomongnya sembari ketawa.

Oh ya, halo!

Kenalan dulu gak, sih?

Gak usah deh. Nanti baca aja sendiri di profil blog hahaha.

Gue Widy. Selamat datang di situs pribadi gue. Dengan embel-embel blogspot yang terkenal akan sumber ilmu pengetahuan dari proses salin-tempel buku atau situs lain hahaha.

Oke, back to the topic.

Blog ini adalah situs tulisan kedua gue setelah Wattpad. Lo bisa baca Wattpad gue di wattpad.com/octowidy. Di situ sih gue nulis versi ajib paling serius (menurut gue, menurut lo tulisan gue jelek ya so what?) Sementara situs ini gue masih belum bisa memutuskan akan seperti apa nantinya, yang jelas di blog ini bakal banyak tulisan santai karena versi bakunya ada di Wattpad.

Beberapa yang harus gue kasih tau sama readers sekalian, blog ini akan ada kata-kata:
✔ Kasar
✔ Nyeleneh/yang tidak kalian pahami alias bahasa gue sendere
✔ Mungkin tiba-tiba gue pake campur kode bahasa Sunda, Depok dan Inggris.
✔ Akan ada kata-kata yang tidak estetik seperi: hm gmn y w gtao, h3h3, paansi paan, dll y kek gitu paham gasi lo

Intinya gue mau nulis apa yang mau gue tulis.

Sebenernya gue udah lama pengen bikin blog, tapi males banget buka blogger.com > create account. Dulu pernah sih bikin, tahun 2016. Itu isinya ringkasan pelajaran yang udah gue rangkum sendiri (paansi skip2). Kalo di Wattpad yaudahlaya tinggal buka aplikasinya, klik ikon pensil di tengah, tulis deh. Tapi di Wattpad sekarang ini makin ditinggalin, karena makin kesini orang-orang males baca Wattpad dan memutuskan untuk mencopot pemasangan aplikasi tersebut. Akhirnya gue menyesuaikan tempat. Blogger ini jauh lebih fleksibel. Selain bisa diakses dari berbagai bentukan model ponsel bahkan PC, domain yang sudah dikenal banyak orang, dan juga lebih mudah; langsung klik judul.

Ini kok jadi panjang lebar, deh?

Oke diakhiri saja tulisan pertama ini. Soal gue mau nulis apa, nanti. Entah itu bakal jadi tulisan yang bisa dibaca banyak orang, atau cuma tulisan curhat gue pribadi.

Dah. Gue ngantuk. Jam 3 pagi lewat 19 menit. Untungnya besok libur yeay! See ya next post!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adab: Sastra Kok Jadi Sopan Santun? – Pengertian Adab Dari Sisi Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia

Sewaktu saya masih duduk di kelas XII di madrasah aliyah daerah Jakarta—2017 silam--saat perjalanan menuju rumah melewati Jalan Legoso, saya melihat Fakultas Adab dan Humaniora. Jika fakultas yang biasa saya lihat sekitar Ciputat maka saya terbiasa melihat Fakultas Tarbiyah, Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta. Namun pada waktu itu saya bingung. Fakultas Adab? Saya baru mengetahui itu. Gedungnya baru, padu padan warna putih dan biru. Saya berpikir, apakah fakultas ini mempelajari tentang akhlak dan sopan santun manusia? Terlebih saya pun belum paham makna humaniora itu sendiri, mengingat saya termasuk dalam rumpun peminatan MIPA di aliyah. Satu tahun berlalu, tanpa ada penyelesaian teka-teki dari makna Fakultas Adab UIN Jakarta. Saya anggap hanya angin lalu. Turun dari motor pun saya sudah lupa. Namun siapa sangka, ketika saya mencoba tes masuk kampus ini lewat jalur mandiri, saya memilih jurusan sastra Arab di pilihan kedua setelah jurusan psikolog...

Ketika Corona Jatuh Cinta

Selama enam belas tahun di rumah, bisa dihitung berapa kali saya duduk di teras selama satu tahun. Bisa jadi tidak lebih dari sepuluh kali. Dan saat ini saya menyempatkan diri bersantai di teras rumah. Sembari menyesap es teh manis ditemani motor yang betah berlama-lama di sini sampai tengah malam. Harusnya. Ya, harusnya, malam ini jadi malam kegembiraan. Berlomba-lomba gelar sajadah di baris depan. Bersalaman dengan tetangga karena setahun sekali bisa berinteraksi. Bersyair dari kitab Tuhan. Anak-anak jagoan lawan anggota dari masjid sebelah untuk perang sarung, atau mengharap tanda tangan sang imam. Para ibu dan anak perawannya mungkin disibukkan dengan hidangan untuk jam tiga pagi. Justru hening. Tidak ada sahut-sahut kemeriahan tiap memulai rakaat di masjid. Terakhir ramai hanya saat kumandang azan penghujung hari. Yang terdengar bukan suara sendal-sendal melangkah, tapi derit engsel pintu tertutup. Aku menghela. Berharap agar setidaknya malam ini tidak amat sepi. Langit pun me...