Langsung ke konten utama

Adab: Sastra Kok Jadi Sopan Santun? – Pengertian Adab Dari Sisi Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia

Sewaktu saya masih duduk di kelas XII di madrasah aliyah daerah Jakarta—2017 silam--saat perjalanan menuju rumah melewati Jalan Legoso, saya melihat Fakultas Adab dan Humaniora. Jika fakultas yang biasa saya lihat sekitar Ciputat maka saya terbiasa melihat Fakultas Tarbiyah, Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta. Namun pada waktu itu saya bingung. Fakultas Adab? Saya baru mengetahui itu. Gedungnya baru, padu padan warna putih dan biru. Saya berpikir, apakah fakultas ini mempelajari tentang akhlak dan sopan santun manusia? Terlebih saya pun belum paham makna humaniora itu sendiri, mengingat saya termasuk dalam rumpun peminatan MIPA di aliyah.

Satu tahun berlalu, tanpa ada penyelesaian teka-teki dari makna Fakultas Adab UIN Jakarta. Saya anggap hanya angin lalu. Turun dari motor pun saya sudah lupa. Namun siapa sangka, ketika saya mencoba tes masuk kampus ini lewat jalur mandiri, saya memilih jurusan sastra Arab di pilihan kedua setelah jurusan psikologi. Saya tidak tahu bahwa sastra Arab merupakan salah satu jurusan di bawah fakultas yang namanya sempat menjadi perhatian saya. Dua bulan menunggu kepastian pengumuman SPMB alhamdulillah saya ‘nyangkut’ di pilihan kedua.

Singkat cerita selama satu semester pertama, saya masih belum paham betul apa itu adab dalam konteks fakultas ini. Sampai salah satu dosen bertanya apa itu adab. Seisi kelas tidak ada yang menjawab sama sekali. Lalu dijelaskan oleh beliau bahwa kata adab diambil dari bahasa Arab yang bermakna sastra. Barulah saya mengerti makna singkat dari pengertian adab. Lalu, bagaimana pengertian adab secara luas menurut bahasa Arab?

Sebelum kata adab dalam sastra Arab dewasa ini diartikan sebagai sastra, adab memiliki perjalanan panjang sejarah pembaruan makna. Adapun historinya sebagai berikut.
1. Pada masa Jahiliyah, kata adab sering diartikan sebagai kata yang bermakna sopan santun atau mengajak makan. Namun, makna adab sebagai ajakan makan tersebut sudah jarang digunakan. Dan bisa dibilang makna adab sebagai ajakan makan ini masuk ke dalam makna “sopan santun”.
2. Pada masa awal Islam (periode Nabi dan Khulafaur Rasyidin) makna kata adab sering diartikan sebagai “pendidikan” (pengajaran) bahasa dan akhlak. Menurut al-Attas, akar kata adab tersebut berdasarkan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW yang secara jelas mengunakan istilah adab untuk menerangkan tentang didikan Allah SWT yang merupakan sebaik-baik didikan yang telah diterima oleh Rasulullah SAW. Hadis tersebut adalah “Addabani Rabbi fa Ahsana Ta’dibi”: Aku telah dididik oleh Tuhanku maka pendidikanku itu adalah yang terbaik.
3. Pada masa Bani Umayyah makna adab sering diartikan sebagai kata yang memiliki makna pengajaran puisi, orasi, dan sejarah Arab.
4. Pada masa Bani Abbasiyah makna adab sama dengan makna yang diartikan pada masa Bani Umayyah. Akan tetapi, ada perluasan makna. Menambahkan makna “pengajaran bicara dan nasehat” ini, sebanding dengan pengertian ilmu humaniora saat ini.
5. Pada abad ketiga Hijriah (sekitar abad ke-10 atau 11 M), kata adab diartikan sebagai sastra.

Pengertian adab secara detail menurut Shauqi Dhaif, adab diartikan sebagai suatu karya sastra yang penyusunan katanya memiliki nilai estetika dan kebenaran yang kemudian dapat menyempurnakan sifat manusia dengan sebaik-baiknya. Sastra dalam Islam bukan hanya fokus pada keindahan sastra semata, namun ada nilai-nilai keagamaan agar muslim mampu membentuk karakter yang baik. Sementara menurut Ismail Raja al Faruqi, adab dimaknai sebagai seni yang tidak terbatas, mengacu pada keyakinan penulis terhadap Allah SWT.

Dari sinilah kita bisa mengetahui bahwa pengertian adab akarnya berasal dari sopan santun dan didikan yang kemudian terus berkembang menjadi konteks sastra dalam sastra Arab. Adapun pengertian adab secara umum dalam bahasa Indonesia berdasarkan Ensiklopedi Nasional Indonesia oleh Delta Pamungkas tahun 2004, adab adalah norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama, terutama agama Islam. Norma tentang adab ini digunakan dalam pergaulan antarmanusia, antartetangga, dan antarkaum. Sebutan orang beradab sesungguhnya berarti bahwa orang itu mengetahui aturan tentang adab atau sopan santun yang ditentukan dalam agama Islam. Namun, dalam perkembangannya, kata beradab dan tidak beradab dikaitkan dari segi kesopanan secara umum dan tidak khusus digabungkan dalam agama Islam.

Untuk pengertian adab jika mengacu dalam konteks sastra Indonesia, adab diartikan sebagai kata sastra. Pengertian sastra sendiri (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta, śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Pengertian sastra menurut KBBI adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab, bukan bahasa sehari-hari. Menurut beberapa ahli seperti Sapardi Djoko Damono memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Teks sastra juga tidak hanya teks yang berisikan tentang intruksi ajaran, lebih dari itu dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Maka sudah bisa dipastikan bahwa maksud dari kata adab dalam Fakultas Adab dan Humaniora di UIN Jakarta bermakna kesusastraan, peradaban, yang memakai kata adab dari bahasa Arab. Fakultas ini sama seperti fakultas ilmu dan budaya di kampus lain. Adapun pengertian adab yang bermakna sopan dan santun merupakan sejarah panjang dari pembentukan kata serapan adab dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Jadi, jangan salah lagi mengartikan fakultas ini, ya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Corona Jatuh Cinta

Selama enam belas tahun di rumah, bisa dihitung berapa kali saya duduk di teras selama satu tahun. Bisa jadi tidak lebih dari sepuluh kali. Dan saat ini saya menyempatkan diri bersantai di teras rumah. Sembari menyesap es teh manis ditemani motor yang betah berlama-lama di sini sampai tengah malam. Harusnya. Ya, harusnya, malam ini jadi malam kegembiraan. Berlomba-lomba gelar sajadah di baris depan. Bersalaman dengan tetangga karena setahun sekali bisa berinteraksi. Bersyair dari kitab Tuhan. Anak-anak jagoan lawan anggota dari masjid sebelah untuk perang sarung, atau mengharap tanda tangan sang imam. Para ibu dan anak perawannya mungkin disibukkan dengan hidangan untuk jam tiga pagi. Justru hening. Tidak ada sahut-sahut kemeriahan tiap memulai rakaat di masjid. Terakhir ramai hanya saat kumandang azan penghujung hari. Yang terdengar bukan suara sendal-sendal melangkah, tapi derit engsel pintu tertutup. Aku menghela. Berharap agar setidaknya malam ini tidak amat sepi. Langit pun me...

Ya, halo.

"Sekarang tanggal berapa? 22." "Hari apa? Selasa." Temen-temen kelas udah pasti hafal kalo gue begitu. Abis itu mereka ngomong, "Dasar. Nanya sendiri, jawab sendiri." Tapi mereka ngomongnya sembari ketawa. Oh ya, halo! Kenalan dulu gak, sih? Gak usah deh. Nanti baca aja sendiri di profil blog hahaha. Gue Widy. Selamat datang di situs pribadi gue. Dengan embel-embel blogspot yang terkenal akan sumber ilmu pengetahuan dari proses salin-tempel buku atau situs lain hahaha. Oke, back to the topic. Blog ini adalah situs tulisan kedua gue setelah Wattpad. Lo bisa baca Wattpad gue di wattpad.com/octowidy. Di situ sih gue nulis versi ajib paling serius (menurut gue, menurut lo tulisan gue jelek ya so what ?) Sementara situs ini gue masih belum bisa memutuskan akan seperti apa nantinya, yang jelas di blog ini bakal banyak tulisan santai karena versi bakunya ada di Wattpad. Beberapa yang harus gue kasih tau sama readers sekalian, blog ini akan ada kata-kata: ✔ Kasar ...